Picture take from www.inspirasi.co through www.google.com |
Judul : Bukan Pasarmalam
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penrbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : 1951
Buku karangan penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer ini merupakan buku
yang memiliki latar pascarevolusi. Tokoh “aku” yang menjadi narator bercerita dalam
novel ini tidak diketahui namanya. Tokoh lain memanggilnya “Gus”, entah itu
berarti dia merupakan keturunan pemuka agama atau dia memiliki nama Agus.
Di awal cerita, tokoh aku menceritakan perjalannya dengan sang istri dari
Jakarta menuju kampung halamannya di Blora demi menemui ayah yang sedang
terbaring sakit. Sang ayah mengirim surat pada tokoh aku yang isinya meminta
sang anak menemuinya di kampung halaman.
Meski tokoh aku hidup pas-pasan di tanah rantaunya, dia sadar bahwa anak
harus patuh pada perintah orangtuanya sehingga dia mencari pinjaman ke sana ke
mari untuk membeli tiket kereta ke Blora.
Sesampainya di Blora, adik-adiknya menceritakan hal-hal yang dilewatkan
tokoh aku selama merantau. Dia baru tahu bahwa sang ayah adalah seorang guru
idealis yang pernah berjuang membela negara ketika orang-orang yang diangkat
menjadi pejabat justru sibuk memperkaya diri.
Selain bercerita mengenai perjuangan dan keperwiraan sang ayah, novel
ini juga mengangkat hal-hal realistis di kehidupan kala itu, seperti realita
sosial, budaya, dan politik. Kehidupan orang pedesaan yang masih percaya dengan
hal gaib pun diceritakan dengan apik dalam novel ini.
Di akhir cerita, sang ayah menghembuskan napas terakhir di rumahnya. Saat
orang berduyun-duyun melayat, tokoh aku kembali mengetahui hal-hal tentang
ayahnya yang selama ini tidak ia ketahui. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa
dunia tidak seperti pasar malam di mana orang datang berduyun-duyun dan pulang
berduyun-duyun pula, melainkan orang akan datang dan pergi satu persatu
sementara yang lain cemas menanti kapan gilirannya.
No comments:
Post a Comment